Showing posts with label education.. Show all posts
Showing posts with label education.. Show all posts

Algoritma dan Struktur Data

-->
Algoritma adalah kumpulan prosedur yang ditulis secara jelas dan structural untuk menyelesaikan suatu masalah. Tiga hal yang harus ada dalam sebuah algoritma adalah : input, proses, dan output. Desain dan analisis algoritma merupakan cabang ilmu computer yang mempelajari tentang karakteristik dan performa algoritma dalam menyelesaikan suatu masalah, terlepas dari jenis system computer dan bahasa pemrograman yang digunakan.
-->
Tiga komponen utama dalam merancang program :
  1. Komponen masukan (input).
-->
Komponen ini biasanya terdiri dari pemilihan variable, jenis variable, tipe variable, konstanta dan parameter (dalam fungsi)

  • Komponen proses.
  • -->
    Komponen ini merupakan bagian utama dan terpenting dalam merancang sebuah algoritma. Dan bagian ini terdapat logika masalah, logika algoritma (sintaksis dan semantik), rumusan, metode (rekursi, perbandingan, penggabungan, pengurangan, dan lain-lain.)

  • Komponen keluaran.
    Komponen ini merupakan tujuan dari perancangan algoritma dan program. Permasalahan yang diselesaikan dalam algoritma dan program harus ditampilkan dalam komponen keluaran. Karakteristik keluaran yang baik adalah benar (menjawab) permasalahan dan tampilan yang ramah.
  • -->

    belajar Array

    Java menawarkan konsep array untuk solusi mendeklarasikan sejumlah besar veriabel secara cepat. Pemakaian variable array akan menghemat waktu penyebutan nama variable. Sebuah variable array sesungguhnya adalah sejumlah berbeda dengan nama sama, namun memiliki nomor indeks yang unik untuk membedakan setiap variable tersebut. Indeks adalah sebuah angka yang menyatakan urutan sebuah elemen pada suatu variable array. Karena seluruh kotak memiliki nama yang sama, maka untuk membedakannya diperlukan suatu cara yaitu dengan memberi nomor urut. Ibarat deretan rumah pada sebuah jalan, antara rumah satu dengan rumah yang lain maka setiap rumah diberi nomor yang unik yang berbeda antara satu dengan rumah lainnya.

    Nomor indeks array variable selalu dimulai dari 0 (nol), sehingga nomor indeks bagi elemen terakhir adalah sebesar (N-1), dimana N adalah jumlah total elemen. Kita bisa mengakses setiap eleman dalam variable array dengan mengacu pada nomor indeksnya. Awalan nol untuk nomor indeks array sering menimbulkan kerancuan bagi kita yang terbiasa dengan awalan angka 1.

    Java menawarkan konsep array untuk solusi mendeklarasikan sejumlah besar veriabel secara cepat. Pemakaian variable array akan menghemat waktu penyebutan nama variable. Sebuah variable array sesungguhnya adalah sejumlah berbeda dengan nama sama, namun memiliki nomor indeks yang unik untuk membedakan setiap variable tersebut.

    Indeks adalah sebuah angka yang menyatakan urutan sebuah elemen pada suatu variable array. Karena seluruh kotak memiliki nama yang sama, maka untuk membedakannya diperlukan suatu cara yaitu dengan memberi nomor urut. Ibarat deretan rumah pada sebuah jalan, antara rumah satu dengan rumah yang lain maka setiap rumah diberi nomor yang unik yang berbeda antara satu dengan rumah lainnya.

    Nomor indeks array variable selalu dimulai dari 0 (nol), sehingga nomor indeks bagi elemen terakhir adalah sebesar (N-1), dimana N adalah jumlah total elemen. Kita bisa mengakses setiap eleman dalam variable array dengan mengacu pada nomor indeksnya. Awalan nol untuk nomor indeks array sering menimbulkan kerancuan bagi kita yang terbiasa dengan awalan angka 1.

    contoh program


    import java.io.*;
    /**
    *
    * @author i Live to give
    */
    public class Hari_BR {
    public static void main(String [] args){
    BufferedReader dataIn = new BufferedReader(new InputStreamReader (System.in));
    int n1=0,n2=0,n3=0,n4=0,n5=0,n6=0,n7=0,n8=0,n9=0,n10=0;
    String nilai1,nilai2,nilai3,nilai4,nilai5,nilai6,nilai7,nilai8,nilai9,nilai10;

    try{
    System.out.println("Inputkan 10 nilai\n");
    System.out.println("Nilai 1 : ");

    nilai1 = dataIn.readLine();
    n1 = Integer.parseInt(nilai1);
    System.out.println("Nilai 2 : ");
    nilai2 = dataIn.readLine();
    n2 = Integer.parseInt(nilai2);
    System.out.println("Nilai 3 : ");
    nilai3 = dataIn.readLine();
    n3 = Integer.parseInt(nilai3);
    System.out.println("Nilai 4 : ");
    nilai4 = dataIn.readLine();
    n4 = Integer.parseInt(nilai4);
    System.out.println("Nilai 5 : ");
    nilai5 = dataIn.readLine();
    n5 = Integer.parseInt(nilai5);
    System.out.println("Nilai 6 : ");
    nilai6 = dataIn.readLine();
    n6 = Integer.parseInt(nilai6);
    System.out.println("Nilai 7 : ");
    nilai7 = dataIn.readLine();
    n7 = Integer.parseInt(nilai7);
    System.out.println("Nilai 8 : ");
    nilai8 = dataIn.readLine();
    n8 = Integer.parseInt(nilai8);
    System.out.println("Nilai 9 : ");
    nilai9 = dataIn.readLine();
    n9 = Integer.parseInt(nilai9);
    System.out.println("Nilai 10 : ");
    nilai10 = dataIn.readLine();
    n10 = Integer.parseInt(nilai10);
    }
    catch (IOException e){
    System.out.println("Gagal membaca keyboard!");
    }

    int besar = 0;
    if(n1>n2&&n1>n3&&n1>n4&&n1>n5&&n1>n6&&n1>n7&&n1>n8&&n1>n9&&n1>n10){
    System.out.print("Nilai terbesar dari "+n1+", "+n2+", "+n3+", "+n4+", "+n5+", "+n6+",
    "+n7+", "+n8+", "+n9+", "+n10+" adalah : "+n1);

    }
    }
    } //end program


    /**
    *
    * @author i Live to give
    */

    public class hariWHILE {
    public static void main(String [] args){

    String [] hari = {"\nMonday","\nTuesday","\nWednesday","\nThirday","\nFriday","\nSaturday","\nSunday"};
    int i = 0;

    int i = 0;
    while(i<7 span="">
    System.out.print(hari [i]+" ");
    i++;
    }
    }
    }

    Menyuap Malaikat

    Menyuap Malaikat? Rasanya kok mengada-ada. Tapi fenomena seperti ini banyak kita rasakan dan cukup “ngetrend” di negeri kita. Menjelang Ramdhan Gelombang “simbolis religius” banyak terjadi. Surga dan malaikat, seolah-olah bisa disuap dengan uang dan harta kekayaan mereka.

    Meski tak banyak, ada saja kalangan pejabat yang nampak alim ketika pulang kampung. Bersedekah kemana-mana, membantu masjid dan royal pada anak yatim. Sebaliknya, di luar rumah, dia justru di kenal sebagai pejabat paling korup dan suka memarkup dana APBN/APBD.
    Ini adalah fenomena nyata di masyarakat. terlihat sopan di kala Ramadhan.
    Uang, seolah bisa “menyuap malaikat Rokib”, malaikan pencacat amal ibadah.Inilah adalah fenomena “pragmatisme ibadah”, yang dilematis bagi Muslimin.

    Makelar Surga
    Para artis dan para koruptor, yang mulutnya sering meletup-letup memproklamirkan diri katanya “cinta agama”, mayoritas –mestik tidak untuk dimaksud tidak semuanya-- mereka adalah para “makelar surga” paling berpengaruh. Di depan publik, ia mempromosikan, bahwa surga adalah “komoditas” yang bisa diraih dengan bermodal materi.

    Kalaulah hal itu dianggap ibadah sampingan, tentu tidak masalah. Ironisnya mengesampingkan esensi ibadah kepada Allah SWT. Memang, dalam hati kecilnya, mereka pun mungkin takut atas dosa-dosanya. Namun magnet godaan setan dengan umpan fatamorgana duniawi eksis lebih kuat mengalahkan keimanannya.

    Faktor utamanya, mereka, umumnya berpikir pragmatis. Bahwa dalam konteks ibadah cukup mengeluarkan sebagian duitnya saja. Naifnya lagi, sering tanpa memperdulikan uang halal atau haram. Lebih menggelikan, ada yang berceletuk , "Berbuat demikian itu lebih baik, daripada tidak sama sekali ".

    Karena itu, para koruptor tak malu mengeruk duit rakyat, mempublikasikan diri melalui berbagai media massa secara gegap gempita menjadi “santri” dan sopan. Bergagah-gagahan berebut membangun masjid-masjid dan menyantuni para yatim piatu dengan mengundang wartawan.Seolah-olah mereka adalah "teladan beribadah” bagi segenap Muslimin. Ia hanya ingin menunjukkan pada public, sesungguhnya, surga masih bisa dibeli. Fenomena tak menarik seperti ini jelas jauh dari arti ibadah secara syar’i.

    Memang surga dan neraka adalah hak progratif Allah SWT. “Dia (Allah) mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu." (QS 5:18).

    Tapi merupakan kesalahan fatal, bila ada manusia bermaksud "mengaveling surga", hanya dengan mengandalkan seonggok harta. Apalagi, I’tikad dari ibadahnya itu tetap tidak merubah kebiasaan buruk sehari-hari.